Mencari Jalan Keluar dari Kemiskinan Nelayan 1


Nelayan sepulang dari melaut di Belawan

Desa nelayan atau kampung nelayan selalu diidentikkan dengan kampungnya orang miskin. Beberapa desa yang pernah penulis kunjungi mulai dari Indramayu, Yogyakarta, Jepara, Cilacap, Batang, Belawan, Batubara,  Muara Angke, Lamongan selalu identik dengan kemiskinan. Mengapa hal tersebut bisa terjadi di negara yang kaya akan sumberday ikan tersebut?

Jika kita menilai Indonesia sebagai individu, setara dengan Amerika, Australia, Malaysia, Singapura, maka Indonesia dapat dikatakan sebagai orang kaya. Bagaimana tidak, kepemilikan lahannya luas terbentang sepanjang 3.977 mil antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, Apabila perairan antara pulau-pulau itu digabungkan, maka luas Indonesia menjadi1.9 juta mil persegi (http://www.indonesia.bg/indonesian/indonesia/index.htm), Wikipedia melaporkan seluas 1.919.440 km persegi. Bandingkan saja dengan Malaysia yang hanya 329.750 km persegi, apalagi Singapura hanya 697 km persegi. Kalah sedikit dibanding Amerika yang luasnya 9.629.091 km persegi dan Australia yang luasnya 7.686.850 km persegi.

Tanah Indonesia yang seluas itu pasti ada sumberdaya di dalamnya, baik mineral, tambang dll. Selain itu tingkat kesuburannya juga sangat tinggi karena dikelilingi oleh gunung-gunung berapi yang aktif memuntahkan material organik yang menjaga kesuburan tanah guna menunjangan pertanian.

Wilayah perairan Indonesia merupakan 3/4 dari total luas wilayahnya. Bayangkan sumberdaya perikanan dan kelautan yang terkandung di dalamnya. Apa itu tidak cukup untuk membuat makmur? Sekali lagi sebagai individu sudah selayaknya Indonesia bersanding setara dengan negara-negara makmur seperti Jerman, Australia, Jepang, Amerika, dll. Ditunjang oleh kekayaan yang melimpah, dan sangat dibutuhkan oleh negara lain sehingga nilai ekonomisnya tinggi.

Namun dibalik kekayaan tersebut tersimpan sebuah misteri. Misteri itu bernama kemiskinan. Sangat klasik memang dan sudah terjadi sejak jaman si embah moyang dulu.

Kemiskinan terjadi di mana-mana baik di kota, desa, kabupaten, provinsi, dan di mana saja dalam wilayah Negara Republik Indonesia. Kemiskinan sering menjadi omongan atau guyonan dikalangan pejabat, partai politik, universitas, dan media, seakan-akan isu kemiskinan punya magnet tersendiri dan selalu ada peminatnya. Terkhusus bagi partai politik dan calon pemimpin seperti Bupati, Presiden, Anggota DPR, sering menjadikan kemiskinan sebagai “barang jualan” yang sangat laku di pasar suara. Tidak dapat dipungkiri bahwa populasi masyarakat miskin di Indonesia sangat besar, niscaya jika seorang calon pemimpin bisa merebut hati pemilih yang tergolong miskin dengan cara menjual janji dan janji dibeli oleh masyarakat miskin dengan suara, dia pasti akan menang.

Salah satu bagian dari misteri kemiskinan yang menarik adalah kemiskinan nelayan. Sebagai negara bahari yang kaya, yang nenek moyangnya dulu adalah pelaut, kemiskinan nelayan menjadi polemik nasional sejak lama.

Lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengartikan kemiskinan sebagai:

  • Ketiadaan pilihan atau kesempatan, suatu pelanggaran terhadap martabat manusia.
  • Kurangnya kapasitas dasar untuk berpartisipasi secara efektif di dalam lingkungan masyarakat.
  • Tidak memiliki makanan dan pakaian yang cukup untuk anggota keluarga, tidak memiliki akses terhadap sekolah dan rumah sakit, tidak memiliki sumberdaya lahan sebagai sumber bahan pangan, atau ketiadaan pekerjaan guna menopang hidup, ketiadaan akses terhadap pinjaman.
  • Ketidakamanan, ketidakberdayaan dan  pengucilan individu, rumah tangga dan masyarakat.
  • Kerentanan terhadap kekerasan, selalu hidup dalam lingkungan marginal atau rentan, tanpa akses terhadap air bersih atau sanitasi. (“Indicators of Poverty & Hunger“)

Nah, apa yang terbersit dalam pikiran pembaca mengenai definisi tersebut? Khususnya jika disandingkan dengan kondisi nelayan kita di daerah pesisir selama ini? Semua pernyataan di atas mendukung kondisi faktual di daerah pesisir khususnya kampung nelayan, walaupun tidak menampik bahwa ada banyak nelayan terutama nelayan juragan yang terkenal kaya, namun bisa dihitung dengan jari jumlahnya.

Jika kita berjalan-jalan di kampung nelayan di Yogyakarta, Jawa Tengah, Sumatera Utara, maka umum kita temui rumah yang terbuat dari gubuk dengan status kepemilikan yang belum jelas. Sanitasi yang buruk dan tidak ada WC, umumnya masyarakat membuang “hajat” langsung ke laut, dan menjadikan laut sebagai WC alam semesta. Kemudian jika kita mensurvey tingkat pendidikan mereka pada umumnya adalah lulusan SD, SMP atau SMU, bahkan beberapa putus sekolah. Anak-anak mereka saat ini cenderung malas ke sekolah bahkan terpaksa tidak sekolah karena harus membantu orang tua mereka melaut, atau berdagang ikan di pasar, bahkan menjadi “alap-alap” seperti kasus di Batang dan Jepara.

Akses nelayan terhadap pinjaman juga sangat rendah, biasanya para nelayan telah terikat dalam satu perjanjian setan dengan rentenir/lintah darat (umumnya para rentenir adalah para penjual ikan yang kaya), seperti drakula rentenir-rentenir menghisap darah dari pendapatan nelayan. Isi dari perjanjian setan tersebut adalah rentenir memberikan pinjaman kepada nelayan dengan bunga yang tinggi dengan syarat ikan hasil tangkapan harus di jual kepada si pemberi pinjaman dengan harga yang cenderung di bawah harga pasar.

About these ads

About Saiful Marbun

I am a fisheries addict, graduated from Fisheries Department of Gadjah Mada University and now living in Canberra, Australia.
This entry was posted in Fisheries Id and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s